GERAKAN FETHULLAH GULEN MOVEMENT


REVIEW JURNAL
SISTEM PENDIDIKAN ISLAM BERWAWASAN
RAHMATAN LIL’ALAMIN
(Kajian Atas Gerakan Pendidikan Fethullah Gulen Movement)

Tugas ini disusun untuk  memenuhi tugas akhir matakuliah
“Ilmu Pendidikan Islam”

Dosen Pengampu
Fata Asyrofi Yahya, M.Pd.I.



Disusun oleh:
Elliya Mallayshiya
NIM. 210317412


KELAS PAI M
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
2018


Judul Artikel
: Sistem Pendidikan Islam Berwawasan Rahmatan Lil’alamin: Kajian atas Gerakan Pendidikan Fethullah Gulen Movement.
Penulis
: 1. Hadi Purnomo (Universitas Negeri Jember)
  2. Umiairso (Universitas Muhammadiyah Malang)
Judul Jurnal
: Cendekia Vol. 16 No  2, Juli - Desember 2018

A.    KEGELISAHAN AKADEMIK
      Terdapat pandangan miring terhadap Islam di kalangan orang-orang non muslim terutama di Barat. Saat ini Islam dikonotasikan sebagai agama perang yang cenderung terlibat dalam perang. Stigma ini mendorong munculnya Islamphobia di negara-negara Barat yang diwujudkan dalam bentuk permusuhan, melecehkan dan bahkan menyerang kaum Muslim. Islamphobia juga mengakibatkan munculnya berbagai usaha untuk mendiskreditkan Islam baik lewat media cetak maupun elektronik. Komentator Televise Fox, Bill O’Reilly, menyamakan kitab suci Al-Qur’an dengan Mein Kampf karya Hitler. Reverend Jerry Vines, mantan pemimpin Southern Baptist Convension, golongan Protestan terbesar di Amerika Serikat, menyebut Nabi Muhammad seorang paedofil yang kesurupan setan. Menurut Reverend Jerry Fatwell, Nabi Muhammad adalah seorang terrorist. Reverend Franklin Graham, yang memimpin doa pada saat pelantikan Bush, menyebut Islam sebagai agama yang sangat licik dan jahat. Tuhan umat Islam bukanlah Tuhan umat Kristen, tegas Graham, anak Billy Graham. Demikian juga Pat Robertson berkali-kali menyatakan hal yang sama. Kelompok-kelompok Kristen tertentu melancarkan serangan untuk menghapus Islam sama sekali dari muka bumi.
Selain itu, ada tantangan lain yang sangat kuat dari umat Islam sendiri yang ingin menyeret Islam sebagai agama damai ke dalam agama kekerasan. Dalam tensi sedikit lebih lunak Islam radikal juga terekspresikan oleh gerakan Islam murni atau Islam otentik, yaitu gerakan yang menginginkan dipraktikannya Islam sebagaimana pada zaman Nabi dan para sahabatnya. Mereka berpendapat bahwa apa yang dipraktikkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya merupakan contoh terbaik dari pengamalan Islam dan oleh karenanya mereka menginginkan Islam seperti itu yang dipraktikkan di Indonesia dan di seluruh dunia. Mereka tidak mau mempertimbangkan kondisi sosio-kultural masyarakat yang melingkupi dipraktikannya Islam pada waktu itu. Kondisi tersebut tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja, tanpa ada upaya untuk melakukan pencegahan sejak dini.
Sebagai umat Islam tentunya kita tidak rela bila agama kita sebagai suatu tatanan nilai normatif diobrak-abrik oleh kalangan lain (outsider) karena kesalahpahaman penilaian dan pandangan mereka terhadap Islam, maupun karena memang ia mempunyai niat jahat untuk menghancurkan Islam. Bahkan juga dari kalangan umat Islam sendiri (insider) yang disebabkan kebodohan dan kesalahan persepsi mereka yang menganggap bahwa aneka tindak kekerasan atas nama agama merupakan sesuatu yang legal dan merupakan bagian dari ajaran Islam. Sebab dua kalangan ini secara sistemik akan mendorong pada penghancuran Islam sebagai suatu formulasi sistem nilai dan budaya yang solutif, toleran, dan dinamis bagi peradaban yang harmonis.

B.     RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan yaitu:
1.      Bagaimana gerakan Fethullah Gulen Movement dalam menciptakan perdamaian dunia melalui pendidikan?
2.      Bagaimana pengelolaan dan sistem pendidikan Islam berwawasan rahmatan lil ‘alamin?

C.    TUJUAN PENULISAN
Dari permasalahan tersebut, maka tujuan penulisan artikel ini adalah:
1.      Menganalisis gerakan Fethullah Gulen Movement dalam menciptakan perdamaian dunia melalui pendidikan yang berfokus pada aspek manajemen dan sistem pendidikan.
2.      Membangun formulasi pendidikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin yang pernah dilakukan oleh organisasi.

D.    PEMBAHASAN
1.      FETHULLAH GULEN MOVEMENT
Fethullah Gulen Movement merupakan suatu gerakan yang bertujuan untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran Fethullah Gulen yang merupakan gerakan perdamaian.
a.      Biografi Singkat Fethullah Gulen
Fethullah Gulen adalah nama seorang tokoh pergerakan Islam dari Turki. Fethullah Gulen lahir pada 27 April tahun 1942 di sebuah kota kecil Korucuk, provinsi Enzurun, Turki Timur. Ayahnya bernama Ramiz Afandi seorang ulama (mullah) yang santun, sedangkan ibunya bernama Rafi’ah Hanim seorang wanita shalihah. Masa kanak-kanak Gulen dipergunakan untuk mempelajari agama baik di sekolah agama maupun surau-surau. Selain itu ia juga belajar ilmu-ilmu umum seperti ilmu sosial, sains dan filsafat. Tahun 1958 ia telah lulus madrasah dan mendapat kepercayaan untuk mengisi khutbah dan mengajar, adapun tema yang dibawa adalah mutual understanding dan toleransi hingga menjadikan dirinya sangat terkenal di Turki. Saat usia dua puluh tahun ia diangkat menjadi imam masjid Ujj Syarfelli di kota Edirne, dan menetap di sana dengan pola hidup zuhud dan sufi. Meski beliau tidak pernah bergabung ke dalam institusi tarekat, tetapi kehidupan beliau layaknya seorang Sufi.
Selain ahli agama Gulen juga seorang ilmuwan sosial modern dan sains fisika. Ia merupakan penulis produktif dengan hasil karya tulis lebih dari 70 buah yang telah dicetak dan mempublikasikan lebih dari 1.000 kaset dan CD yang berisi ceramahnya. Selain itu ia juga menulis artikel tentang berbagai topik seperti isu-isu sosial, politik, agama, seni, ilmu pengetahuan dan olahraga. Tapi sebagian besar tema-tema yang ia usung tidak lepas dari tema toleransi hingga mampu menumbukan kesadaran masyarakat Turki. Gulen mempunyai cita-cita besar untuk mewujudkan tatanan peradaban yang penuh dengan nilai-nilai toleransi terlebih yang menjunjung perdamaian. Menurutnya, kedamaian dapat dibangun dengan sikap menghormati perbedaan, jika tidak maka konflik pasti akan terjadi.
b.      Motif yang Mendorong Terbentuknya Gerakan Fethullah Gulen
Pendapat Fethullah Gulen yang dipropagandakan dalam berbagai event melahirkan banyak pengikut. Komunitas yang terbentuk dari kegiatan yang dilakukannya itulah yang membentuk Fethullah Gulen Movement (FGM). Adapun motif  lain yang mendorong terbentuknya Gerakan Fethullah Gulen adalah:
1)      Islam dituduh sebagai agama teror, kejam, anti pluralisme, intoleransi dan tuduhan-tuduhan negatif lainnya. Untuk itu, perlu suatu gerakan yang mampu merepresentasikan perdamaian, kesejahteraan dan kemakmuran.
2)      Negara-negara yang mayoritas berpenduduk Islam, banyak diwarnai dengan peperangan, ini berarti nilai-nilai humanitas telah hilang. Inilah yang memicu Gulen untuk melakukan gerakan Islam yang mengusung misi perdamaian.
c.       Pemikiran Gulen Tentang Islam Sebagai Agama Perdamaian
Misi utama Fethullah Gulen Movement adalah terciptanya kehidupan yang penuh perdamaian, jauh dari peperangan dan teror. Sebagai seorang yang menekankan harmonisasi antarumat beragama dan menentang perang atas nama agama, berikut  pemikiran Fethullah Gulen tentang perdamaian :
1)      Tuhan menghendaki keanekaragaman, namun pada saat yang sama Dia juga menginginkan perdamaian, bukan konflik. Realitas manusia diciptakan berbeda-beda baik suku, bangsa, warna kulit dan bahasanya. Demikian juga agama yang dianut manusia tidak lepas dari pluralitas. Karena Tuhan yang menciptakan keanekaragaman, maka Dia pulalah yang memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman itu, sehingga, misalnya, umat Islam dilarang untuk mencacimaki sesembahan pemeluk agama lain.
2)      Nabi Muhammad adalah seorang yang penuh cinta dan kasih sayang. Maka intisari agama adalah cinta (mahabbah). Dengan cinta, manusia akan menerima keyakinan apapun yang dipersepsikan oleh umat manusia.
3)      Toleransi, cinta dan kasih sayang adalah benar-benar ajaran dasar Islam. Islam mengajarkan nilai-nilai universal seperti pengampunan, kedamaian batin, keharmonisan sosial, kejujuran dan kepercayaan kepada Tuhan. Sebaliknya terorisme dan radikalisme merupakan akibat hilangnya cinta dan kasih sayang dari hati manusia.
4)      Adanya kesalahan interpretasi dari sebagian umat Islam terhadap perintah jihad. Mereka memaknai jihad sebagai tindakan ofensif yang tidak manusiawi. Padahal jihad adalah upaya untuk membela diri dalam melindungi kemaslahatan yang menjadi maqashid al-syari’ah dari tindakan arogansi. Jihad adalah tindakan emergensi bukan tindakan yang bersifat agresif terlebih yang arogan-destruktif.
d.      Menciptkan Perdamaian Antarumat Islam dan Agama Lain Melalui Dialog dan Pendidikan
Salah satu cara yang digunakan oleh Fethullah Gulen dalam menciptakan hubungan yang harmonis antarumat Islam dan agama lainnya adalah melalui dialog budaya dan agama. Ide tentang dialog antaragama diwujudkan dalam bentuk beberapa organisasi yang bekerja untuk mewujudkan dialog yang saling menghargai, kerjasama untuk mencapai tujuan yang saling menguntungkan serta penerimaan eksistensi satu sama lain secara damai. Dialognya yang paling monumental adalah pertemuannya dengan Paus Johanes Paulus II dan dengan Rabbi Yahudi Sephardik dari Israel. Selain dialog, untuk mewujudkan misinya tersebut, ia menggunakan pula jalur lain yaitu melalui pendidikan. Jalur inilah yang akhirnya banyak menginspirasi pergerakan organisasi lain di belahan dunia. Prinsip institusi pendidikan yang didirikan Gulen membangun dialog interaktif antar sesama, hubungan antaragama dan hubungan antarbudaya. Gulen dan para pengikutnya sangat memfokuskan pendidikan sebagai pusat perhatiannya sebagai basis penyebaran agama Islam yang baik dan benar, bukan melalui gerakan fundamentalisme dan radikalisme atau bahkan terorisme
2.      PENGELOLAAN DAN SISTEM PENDIDIKAN ISLAM BERWAWASAN RAHMATAN LIL ’ALAMIN
a.      Sistem Pendidikan Fethullah Gulen Movement (FGM)
Fethullah Gulen Movement mendirikan 100 sekolah di Turki dan lebih dari 200 sekolah di seluruh dunia mulai dari Tanzania ke Cina, Afrika, dan beberapa di Asia Tengah, Asia Timur dan Tenggara, Eropa dan Amerika. Adapun sistem pendidikan Fethullah Gulen yang berwawasan rahmatan lil ‘alamin, yaitu:
1)      Kurikulum Pendidikan FGM
     Kurikulum yang digunakan sama dengan yang diterapkan di sekolah pemerintah Turki, namun mereka menekankan nilai-nilai agama seperti akhlak al-karimah dan hormat kepada yang lebih tua sebagai entitas yang substantif. Sistem pendidikan FGM lebih mengutamakan pendidikan Islam yang bersifat progressif dan menekankan pada perdamaian. Penekanan tersebut diwujudkan dalam bentuk gerakan-gerakan progressif dengan mengedepankan aspek etika.
2)      Model Pendidikan FGM
      Model pendidikan yang dikelola FGM mengedepankan nilai-nilai cinta kasih yang muncul dari keagamaan dalam wujud konkrit interaksi edukatifnya. Pendidikan yang digagas Gulen memiliki landasan tasawuf, dimana ia mentransformasikan tasawuf dari yang bersifat pengalaman spiritual menjadi sebuah aktivitas yang langsung bersentuhan dengan persoalan umat Islam dan manusia di bumi ini. Adapun bentuk transformasi sufistiknya adalah pendidikan dan perdamaian dunia.
3)      Metode Pendidikan FGM
       Adapun metode yang digunakan adalah dialog. Dialog dianggap mampu menjadi medium yang baik untuk menciptakan perdamaian sebab di dalamnya bisa saling berinteraksi.
4)      Tujuan Sistem Pendidikan FGM
      Adapun tujuan dari sistem pendidikan yang didirikan FGM      
adalah:                                                                                                
a)      Sebagai sarana untuk menyiapkan golden generation yang akan menjadi para pemimpin negara masa depan.
b)      Sebagai sarana untuk menciptakan perdamaian. Melalui sistem pendidikan yang dikelolanya, Gulen ingin mencetak peserta didik yang memiliki jiwa pelopor perdamaian, yaitu perdamaian universal tanpa memandang agama, etnis dan batas teritorial suatu negara yang lain. Dengan dasar itulah akan tercipta perdamaian universal yang menekankan pada nilai-nilai toleransi.
b.      Pengelolaan Pendidikan Islam Berwawasan Rahmatan Lil ‘Alamin
Para pengajar di sekolah-sekolah FGM adalah tokoh profesional, cerdas, dan memiliki etos belajar yang tinggi. Untuk menghidupi lembaga pendidikan mereka, maka pola pendanaannya disuport langsung oleh para anggota FGM, melalui pola swadaya, merintis, membangun, dan mengelola lembaga pendidikannya. Mereka mengelolanya dengan bekerja keras dan mengutamakan pelayanan hingga semua anggota FGM merasa bertanggungjawab terhadap keberhasilan mewujudkan misinya. Etos kerja yang tinggi melalui kinerja organisasional yang bersifat kolektif-kolegial ternyata berhasil membawa lembaga pendidikan yang mereka kelola pada kualitas tinggi.
Pengelolaan kelembagaan pendidikannya lebih menekankan pada sumberdaya manusia untuk dibentuk menjadi pelaku (subjek) pembangunan perdamaian dunia. Pengelolaan lembaga pendidikan harus bisa menyatukan atau mengawinkan dua potensi dalam diri manusia yaitu pikiran dan spiritual (marriage of mind and spirituality). Fungsi akal untuk menciptakan segala bentuk kebutuhaan, sedangkan spiritualitas untuk menyeimbangkan keinginan (hasrat) positif dan negatif yang terkandung dalam jiwa manusia.
      Pendidikan integratif yang dicanangkan Gulen melalui FGM ternyata mampu melahirkan subjek pendidikan rahmatan lil ‘alamin. Sifat lembaga pendidikan yang begitu terbuka dan tidak menyekat komunitas, etnis, atau agama lain, serta penanaman nilai toleransi yang besar menjadikan gagasan FGM patut dicontoh oleh negara lain. Adapun bentuk aplikasi gagasan FGM adalah dengan mengimplementasikan sistem pendidikan Islam dalam pendidikan sebagai jalan perdamaian untuk seluruh umat di muka bumi. Artinya pendidikan itu rahmatan lil’alamin semua orang boleh memasukinya, orang Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan agama lainnya, dengan menggunakan sistem pendidikan Islam yang toleransi, cinta kasih, dan humanitas untuk perdamaian umat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MP2