MP2

NASKAH MEDIA PEMBELAJARAN Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Media Pembelajaran” Dosen Pengampu Zeni Murtafiati Mizani, M. Pd. Disusun oleh kelompok 7: 1. Afif Ali Mahruz [210317438] 2. Elliya Mallayshiya [210317412] 3. Muhammad Khamim [210317441] 4. Ulfah Uswatun Khasanah [210317421] KELAS PAI M JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO 2019 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemampuan setiap peserta didik dalam memahami materi memang berbeda-beda. Untuk mengatasi masalah tersebut, pendidik harus menggunakan metode dan media yang bervariasi. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru atau fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan hendaknya sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Oleh karena itu, guru atau fasilitator perlu mempelajari bagaimana memilih media pembelajaran yang tepat agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Akan tetapi, kenyataannya tidak semua pendidik mampu memilih atau bahkan tidak mampu menggunakan media pembelajaran yang dibutuhkan peserta didik. Maka pada makalah ini, pemakalah akan sedikit menguraikan apa itu naskah media pembelajaran dan bagaiamana menulis naskah audio, film dan video pembelajaran. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengertian naskah media pembelajaran? 2. Bagaimana pengertian treatment? 3. Bagaimana penulisan naskah audio media pembelajaran 4. Bagaimana penulisan naskah film dan video media pembelajaran? C. Tujuan Pembahasan 1. Mengetahui pengertian naskah media pembelajaran. 2. Mengetahui pengertian treatment. 3. Mengetahui penulisan naskah audio media pembelajaran. 4. Mengetahui penulisan naskah film dan video media pembelajaran. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Naskah Program Media Dalam menyampaikan materi kepada peserta didik, tentunya kita membutuhkan sebuah media agar materi intruksional itu dapat disampaikan melalui media itu. Materi tersebut perlu dituangkan dalam tulisan atau gambar yang kita sebut naskah program media. Naskah adalah bentuk tertulis dari pemikiran seseorang atau kelompok orang yang telah disistemasikan dan dimaksudkan untuk menyampaikan pesan (message) demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Naskah program media merupakan bentuk penyajian materi intruksional berupa teks, gambar, dan suara serta sebagai penuntun dalam memproduksi program media. Dalam artian naskah tersebut menjadi penuntun kita dalam merekam suara, memadukan gambar dan suara, memasukkan musik dan FX (effect) sehingga menarik serta mudah diterima. Naskah untuk program media perlu disusun, karena melalui naskah, tujuan pembelajaran dan materi ajar dituangkan dengan kemasan sesuai dengan jenis media, sehingga media yang dibuat benar-benar sesuai dengan keperluan. Selain itu, naskah menjadi pedoman bagi pengguna dan terutama pembuat program. Hal ini akan memudahakan para guru dalam mengelola dan memanfaatkan media sebagai sumber belajar sehingga tidak mengurangi kesesuaian materi ajar dengan media dalam pemanfaatan waktu pembelajaran. Naskah program media bermacam-macam, tiap-tiap jenis mempunyai bentuk yang berbeda. Tetapi pada dasarnya, maksud dalam naskah tersebut sama yaitu sebagai penuntun ketika kita memproduksi program media itu. Artinya, naskah tersebut menjadi penuntun kita dalam mengambil gambar dan merekam suara. Naskah ini berisi urutan gambar dan grafis yang perlu diambil oleh kamera serta bunyi dan suara yang harus direkam. Pada dasarnya penggunaan media pengajaran bertujuan untuk: 1. Memberi kemudahan kepada peserta didik untuk memahami materi pelajaran. 2. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi. 3. Menumbuhkan sikap dan keterampilan dalam penggunaan teknologi. 4. Menciptakan situasi belajar yang tidak mudah dilupakan. B. Treatmen Sebelum naskah ditulis kita harus menuliskan treatmentnya dulu. Treatment adalah uraian berbentuk esai yang menggambarkan alur penyajian program kita. Dengan membaca treatment ini kita akan dapat mempunyai gambaran tentang urutan visual yang akan nampak pada media serta narasi atau percakapan yang akan menyertai gambar itu. Bila musik dan efek suara akan digunakan, hal tersebut akan tergambar juga dalam treatment ini. Sebuah treatment yang baik selain memberi gambaran tentang urutan adegan, juga memberikan gambaran suasana atau mood dari program media itu. Treatment ini biasanya digunakan oleh pemesan naskah dan penulis naskah dalam mencari kesesuaian pendapat mengenai alur penyajian program media yang akan diproduksi. Setelah treatment disetujui, treatment tersebut digunakan sebagai pedoman dalam pengembangan naskah selanjutnya. Contoh: Program diawali dengan munculnya seorang siswa yang sedang memegang kamera. Dari jauh ia kelihatan sedang mengamati kamera itu, nampaknya sedang mencari-cari sesuatu. Setelah di zoom in ke medium shot nampak jelas bahwa ia sedang mencari-cari bagaimana cara membuka kamera itu untuk mengisi filmnya. Pada saat ia menemukan kunci pembuka itu dan penutup kamera sudah mulai terbuka, gambar di close up pada tangan dan kamera itu. Gambar ditahan dan disuper-impose dengan grafis yang berbunyi “ bagaiman memasang film?” gambar ditahan terus sehingga credit title habis. Dari awal sampai credit title habis musik mengiringi sebagai latar belakang. C. Penulisan Naskah Audio Audio adalah gelombang suara yang bisa didengar dan dimengerti oleh telinga manusia. Audio membantu menyampaikan informasi dengan lebih bermakna melalui penggunaan suara. Media audio adalah media yang menyajikan informasi dalam bentuk audio atau suara dan untuk menerima informasi tersebut menggunakan indra pendengaran. Format audio yang dapat disajikan adalah suara manusia (narative), musik, lagu/vocal, dan sound efect. Program audio dapat menjadi indah dan menarik karena program ini dapat menimbulkan daya fantasi pada pendengarnya. Kita dapat merangsang pendengar untuk menggunakan daya imajinasi sehingga ia dapat memvisualkan pesen-pesan yang ingin kita sampaikan. Media audio ini meliputi radio, kaset audio dan laboratorium bahasa. Dalam kegiatan pembelajaran, penggunaan komunikasi audio banyak digunakan. Pemanfaaatan media audio dalam pembelajaran dipergunakan dalam: 1. Pembelajaran musik literari dan kegiatan dokumentasi. 2. Pembelajaran bahasa asing. 3. Pembelajaran melalui radio. Unsur audio juga merupakan unsur penarik perhatian pesert didik agar menyimak isi pesan yang dikomunikasikan. Dalam menulis naskah atau skrip program audio, terlebih dahulu kita harus membuat garis besar jalannya isi naskah yang akan ditulis atau dapat disebut tema naskah yang akan dibuat. Penulisan naskah ini dimaksudkan sebagai penuntun dalam proses perekaman suara. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat akan membuat naskah program audio, diantaranya adalah: 1. Pesan harus relevan dengan karakteristik kelompok sasaran, tidak hanya satu atau bagi segelintir individu atau kelompok tertentu. Pesan hendaknya memperhatikan kepentingan bersama. 2. Persoalan adaptasi menjadi hal terpenting karena sebuah pesan harus sesuai dengan karakteristik orang yang berbeda-beda. Berikut beberapa petunjuk yang perlu dikuti dalam menulis naskah program media audio, seperti yang dikemukakan oleh Arif S. Sadiman: 1. Bahasa yang digunakan dalam media audio adalah bahasa percakapan bukan bahasa tulisan. Kalimat yang digunakan sedapat mungkin kalimat tunggal dan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek. 2. Musik dalam program audio. Program audio hanya mengandalkan kepada suara saja. Agar pendengar tidak bosan mendengarkan program, maka perlu menggunakan musik dalam program audio. 3. Daya konsentrasi orang dewasa untuk mendengarkan berkisar antara 25-45 menit dan untuk anak-anak 15-25 menit. Oleh karena itu tidaklah bijaksana bila membuat program audio yang sangat panjang. Beberapa istilah teknis yang digunakan dalam naskah audio antara lain: 1. ANNOUNCER (ANN): pihak yang memberikan informasi tentang suatu acara akan disampaikan. Atau dengan kata lain berfungsi untuk membuka sebuah program audio. 2. NARRATOR (NAR): fungsinya hampir sama dengan fungsi announcer, namun perbedaannya narrator menginformasikan sajian materi. Jadi narrator sudah berada dalam program. 3. MUSIK: musik perlu dituliskan dalam naskah, yang menunjukan bahwa pada adegan tersebut perlu disisipkan musik yang sesuai. 4. SOUND EFFECT (FX): adalah suara-suara yang terdapat dalam program audio untuk mendukung terciptanya suasana atau situasi tertentu. Sound effect dapat berupa suara alamiah, atau sengaja dibuat dengan manipulasi tertentu. 5. FADE IN DAN FADE OUT: adalah simbul yang berarti bahwa pada adegan tersebut musik masuk secara perlahan (fade in) dan jika musik sedang berjalan maka hilangnnya pun secara perlahan (fade out) 6. OFF MIKE: situasi dimana suara ditimbulkan seolah-olah dari kejauhan. Untuk menimbulkan efek ini sumber suara harus menjauhi mike. 7. IN-UP-DOWN-UNDER-OUT: simbol ini menjelaskan bahwa musik masuk secara perlahan (IN), kemudian naik (UP) setelah musik naik secara optimal maka kembali turun secara cepat (DOWN), kemudian musik perlahan rendah dan terus bertahan rendah selama beberapa menit (UNDER) sampai akhirnya musik perlahan menghilang (OUT). D. Penulisan Naskah Film dan Video Berbeda dengan media audio, film dan video merupakan program media audio visual. Unsur suara yang ditampilkan berupa narasi, dialog, sound effect dan musik. Sedangkan untuk unsur visual berupa gambar atau foto diam, gambar bergerak animasi dan teks. Penulisan naskah film maupun video dimulai dengan identifikasi topik atau gagasan. Konsep tersebut dikembangkan dan dijadikan naskah untuk diproduksi menjadi program film atau video. Secara bertahap pembuatannya dimulai dari pembuatan sinopsis, treatment, storyboard atau perangkat gambar cerita, skrip atau naskah program dan scenario/naskah produksi. Dalam pembuatan naskah media audio visual ada beberapa tahapan yang harus dilalui dianratanya sebagai berikut: 1. Sinopsis/Story Line Sinopsis adalah ringkasan cerita/film menjadi bentuk pemendekan dari sebuah film dengan tetap memperhatikan unsur-unsur cerminan film tersebut. Membuat sinopsis merupakan suatu cara yang efektif untuk menyajikan karangan film panjang dalam bentuk yang singkat. Dalam praktik, sinopsis digunakan untuk memberikan gambaran secara ringkas dan padat tentang tema yang akan digarap. Tujuannya agar mempermudah pemesan menangkap konsepnya. 2. Treatment Memberikan uraian secara deskriptif (bukan tematis) tentang bagaimana suatu rangkaian peristiwa instruksional nantinya akan digarap sebagai ilustrasi pembanding. 3. Storyboard Storyboard adalah rangkaian peristiwa yang dituliskan dalam treatment kemudian divisualkan pada kartu lebih kruang 8 x 12 cm. Tujuannya untuk mempermudah mengatur garis cerita (plot), apakah arus ceritanya lancar dengan momen pengambilan (shots). 4. Skrip atau naskah program Dalam pembuatan program film maupun video, skrip atau naskah program media merupakan daftar rangkaian peristiwa yang akan dipaparkan gambar demi gambar dan penuturan demi penuturan menuju perilaku belajar yang ingin dicapai. 5. Skenario Terdapat perbedaan pendekatan antara film dan video dalam skenarionya, jika film pendekatannya filmnya berpindah-pindah bersifat cut-to-cut sedangkan video mempunyai transisional dan bersifat sekuensial. Beberapa istilah teknis dalam naskah film dan video, diantaranya: 1. Close Up Yaitu gambar diambil dari jarak dekat, biasanya hanya sebagian kecil dari obyeknya saja yang termasuk kamera. 2. Extreme close UP (ECU/XCU) Yaitu lebih dekat dari pengambilan gambar untuk CU. Yang masuk kamera mungkin hanya hidung dan bibirnya saja atau ujung/ tumit sepatunya. 3. Medium Shot (MS) gabar diambil dari jarak sedang . kalau objeknya orang, separuh badanya terkena. 4. Long Shot (LS) gambar diambik dari jarak jauh. Sebelum obyek terkena, latar belakang objek itu pun terkena juga. 5. Extreme long (Shot (ELS/XLS) gambar diambil dari jarak lebih jauh lagi. Yang dipentingkan bukan mengambil objeknya tetapi latar belakang objek itu. Dengan demikian dapat diketahui posisi objek itu terhadap lingkungannya. 6. Low angle diambil dari bawah. Dilakukan untuk mem[eroleh gambar yang memberi kesan berwibawa, kuat atau dominan. 7. High angle diambill dari atas. Dilakukan untuk memperoleh gambar yang memberi kesan kecil. 8. Eye level kamera setinggi mata objek yang difoto. Memberi kesan wajar. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan: 1. Naskah program media merupakan bentuk penyajian materi intruksional berupa teks, gambar, dan suara serta sebagai penuntun dalam memproduksi program media 2. Treatment adalah uraian berbentuk esei yang menggambarkan alur penyajian program. Dengan membaca treatment ini, kita akan dapat mempunyai gambaran tentang urutan visual yang akan nampak pada media serta narasi atau percakapan yang akan menyertai gambar. 3. Penulisan naskah audio dalam media pembelajaran hendaknya menggunakan bahasa percakapan, bukan bahasa tulisan. Kalimat yang digunakan sedapat mungkin kalimat tunggal dan menggunakan kalimat-kalimat yang pendek. Program audio hanya mengandalkan suara saja. Agar pendengar tidak bosan mendengarkan program, maka perlu menggunakan musik dalam program audio. Daya konsentrasi orang dewasa untuk mendengarkan berkisar antara 25-45 menit dan untuk anak-anak 15-25 menit. Oleh karena itu tidaklah bijaksana bila membuat program audio yang sangat panjang. 4. Dalam pembuatan naskah media audio visual ada beberapa tahapan yang harus dilalui dianratanya sebagai berikut : Sinopsis / Story Line, treatment, strory board, skrip/ naskah program, dan skenario. Daftar Pustaka Asyhar, Rayandra. Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press. 2011. http://merahberseri.blogspot.com/2013/07/penulisan-naskah.html. Munadi, Yudhi. Media Pembelajaran, Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta: Gaung Persada Press. 2010. Munir, Multimedia Konsep dan Aplikasi dlam pendidikan. Bandung: Alfabeta 2013. Sadiman, Sadiman, dkk. Media Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo. 2011. Syah, Darwyn, dkk. Perencanaan Sistim Pengajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Gaung Persada Press. 2007.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GERAKAN FETHULLAH GULEN MOVEMENT